Selasa, 03 April 2012

UNDERACHIEVER



OLEH : AJENG ARININGSUN (101014243) 
BAB I
PENDAHULUAN
Dalam kegiatan pembelajaran, beberapa guru dihadapkan pada karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajar secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit siswa yang justru mengalami berbagai kesulitan. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis. Kesulitan belajar siswa dapat menyebabkan prestasi belajar terganggu, nilai yang ditetapkan guru tidak dapat dicapai dengan baik oleh siswa.
Salah satu jenis kesulitan atau masalah belajar yang sering dialami oleh siswa adalah underachiever atau keadaan dimana prestasi yang diperoleh siswa tersebut di bawah tingkat kecerdasan atau IQ yang dimilikinya.
Meskipun underachiever merupakan salah satu jenis masalah belajar yang sering dialami siswa, tetapi ternyata masih banyak yang belum memahami sebenarnya apa yang dimaksud dengan underachiever.
Oleh karena itu, penulis membuat makalah ini dengan harapan pembaca dapat memperoleh wawasan baru mengenai underachiever, bagaimana ciri-ciri anak yang mengalami underachiever, apa saja faktor yang menyebabkan anak mengalami masalah ini, serta bagaimana cara penanganan maupun pencegahannya.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN UNDERACHIEVER
Underachiever adalah anak yang berprestasi rendah dibandingkan tingkat kecerdasan yang dimilikinya. Menurut Prayitno dan Amti (1999:280) underachiever identik dengan keterlambatan akademik yang berarti bahwa “keadaan siswa yang diperkirakan memiliki intelegensia yang cukup tinggi, tetapi tidak dapat memanfaatkannya secara optimal.” Rimm (dalam Del Siegle & McCoah, 2008) menyatakan bahwa ketika siswa tidak menampilkan potensinya, maka ia termasuk Underachiever. Siswa yangUnderachiever seringkali salah dinilai sebagai siswa berkesulitan belajar (McCall et al, 1992; Ross, 1995 dalam Peters & Boxtel, 1999). Reis dan McMoach (2000 dalam Robinson, 2006) mendifinisikan underachievement sebagai kesenjangan akut antara potensi prestasi (expected achievement) dan prestasi yang diraih (actual achievement).

Untuk dapat diklasifikasikan sebagai underachiever, kesenjangan antara potensi dan prestasi tersebut bukan merupakan hasil diagnosa kesulitan belajar (learning disability) dan terjadi secara menetap pada periode yang panjang (Robinson, 2006). Underachiever ini juga tidak dikaitkan dengan adanya perubahan hormonal menjelang remaja.

Saat ini belum ada metode yang tepat yang dapat digunakan psikolog pendidikan untuk mengidentifikasi underachiever (Ross dalam Peters & VanBoxtel, 1999). Secara operasional, underachievement dapat didefinisikan sebagai kesenjangan antara skor tes inteligensi dan hasil yang diperoleh siswa di sekolah (Peters & VanBoxtel, 1999).

Siswa yang tidak memiliki motivasi dalam belajar sering menjadi penghambat anak dalam belajar. Artinya, jika di dalam diri siswa kurang memiliki motivasi berprestasi bisa jadi ia akan menjadi anak underachiever.

B.     CIRI – CIRI UNDERACHIEVER
Karakteristik utama yang dihubungkan dengan anak underachiever adalah rendahnya self-esteem (Preckle & Vock, 2006; Trevallion, 2008). Pernyataan tersebut juga dipertegas oleh Butler-Por; McCall, Evahn & Kratzer (dalam Adams, 1997) yang menyatakan bahwa salah satu karakteristik kepribadian siswa underachiever adalah rendahnya konsep diri. Siswa biasanya menutupi ini dengan mengembangkan mekanisme pertahanan diri (defence mechanism) seperti bertindak agresif ataupun membuat keributan/lelucon di kelas.
Karakteristik sekunder yaitu biasanya mereka memperlihatkan perilaku menghindar. Mereka sering mengatakan bahwa pelajaran di sekolah tidak relevan atau tidak penting karena itu mereka biasanya lebih tertarik kegiatan selain kegiatan sekolah. Kaufman (dalam Trevallion, 2008) menyatakan bahwa karakteristik ini tampil dalam dua arah yaitu agresif atau menghindar. Mereka juga akan memperlihatkan ketergantungan seperti tergantung pada orang lain untuk menyelesaikan tugasnya.
Karakteristik tersier siswa underachiever antara lain buruknya keahlian dalam tugas-tugas sekolah, kebiasaan belajar yang buruk, memiliki masalah penerimaan oleh teman sebaya, konsentrasi yang buruk dalam aktivitas sekolah, tidak bisa mengatur diri baik di rumah maupun di sekolah, mudah bosan, “meninggalkan” kegiatan kelas, memiliki kemampuan berbahasa oral yang baik, tapi buruk dalam menulis, mudah terdistraksi dan tidak sabaran, sibuk dengan pikirannya sendiri, kurang jujur, sering mengkritik diri sendiri, mempunyai hubungan pertemanan yang kurang baik, suka bercanda di kelas (membuat keributan), ramah terhadap orang yang lebih tua, dan berperilaku yang tidak biasa.
Ciri ciri umum anak underachiever ialah:
·         Memiliki self esteem yang rendah, kurang merasa berharga untuk tampil diantara teman-teman atau keluarganya
·         Memiliki konsep diri yang tidak realistis, kadang merasa sebagai anak yang gagal atau tidak berguna
·         Menghindari komunikasi, menghindari risiko, tidak berdaya (menunggu diajak orang lain)
·         Pasif, taat hanya sekedarnya saja
·         Agresif, memberontak
·         Menolak perintah atau instruksi dari tokoh otoritas (orangtua, guru dan lain-lain)
·         Menyalahkan orang lain kalau ada masalah
·         Kurang konstruktif dalam kelompok
·         Tidak punya tokoh identifikasi, tidak punya teman dekat
·         Kurang fleksibel, sering ‘mentok’, kreativitas rendah
·         IQ lebih tinggi dari prestasi dan prestasinya  inkonsisten: kadang bagus, kadang tidak
·         Tidak menyelesaikan pekerjaan rumah
·         Takut gagal (atau sukses) dan  menghadapi ulangan.
·         Tidak punya inisiatif,  malas, bahkan depresi.
Perilaku yang mereka tunjukkan di sekolah, antara lain:
·         Bersikap negatif terhadap sekolah
·         Berkata kalau ia bosan belajar
·         Tugas-tugasnya tidak selesai
·         Tidak pernah puas dengan hasil kerjanya (perfeksionis)
·         Mudah terganggu konsentrasinya
·         Mempunyai masalah disiplin – berkeliling kelas, terlambat, mengganggu kelas
·         Menyalahkan guru atau teman kalau ada masalah
·         Prestasi akademiknya rendah
·         Tidak punyai target, ambisinya kurang

C. KRITERIA UNDERACHIEVER
Pengklasifikasian IQ dalam penelitian ini berdasarkan pada tes intelegensi ”Wechsler Intelligence Scale for Children” yang sering dikenal tes intelegensi WISC. Tes intelegensi ini merupakan perkembangan dari tes integensi ”Wechsler Bellevue Intelligence Scale yang diciptakan David Wechsler pada tahun 1939. Distribusi IQ yang gunakan dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Distribusi IQ
IQ
KLASIFIKASI
> 130
Sangat Superior
120 – 129
Superior
110 – 119
Rata-rata Tinggi
90 – 109
Rata-rata
80 – 89
Rata-rata Rendah
70 – 79
Batas Lemah Mental
≤ 69
Lemah Mental
Sumber: Walgito, 1992: 152
Seseorang yang mengalami underachievement pada umumnya menunjukan karakteristik yang berbeda dengan lainnya. Berikut ini merupakan penjelasan mengenai karakteristik underachiever.
Menurut Clark (1992: 471) ada beberapa karakeristik yang ditunjukan siswa underachiever, yaitu sebagai berikut:
1.      Menunjukan prestasi yang berlawanan dengan harapan atau potensi yang dimilikinya.
2.      Merasa tidak senang dengan sekolah atau gurunya dan cenderung bergabung dengan teman yang juga memiliki sikap negatif terhadap sekolah.
3.      Kurang termotivasi untuk belajar, tidak mengerjakan tugas, sering mengantuk ketika belajar dan tidak tuntas dalam mengerjakan tugas.
4.      Kurang mampu melakukan penyesuaian intelektual.
5.      Merasa kurang bersemangat, kurang tegas dan sering ribut di kelas.
6.      Memiliki disiplin yang rendah, sering telat sekolah, enggan mengerjakan tugas, sering ribut, dan mudah terpengaruh.
7.      Tidak memiliki hobi atau minat terhadap kegiatan untuk mengisi waktu luang.
8.      Takut ujian dan berprestasi rendah.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kriteria utama dari underachiever yaitu adanya kesenjangan antara prestasi dengan kemampuan IQ. Prestasi belajar yang diperoleh secara nyata berada di bawah standar minimal yang seharusnya dicapai dengan tingkat IQ tertentu. Selain itu underachiever menunjukan karakter pribadi yang cenderung perfectionis, terlalu sensitif, kurang percaya diri, dan kurang berminat terhadap aktifitas sosial. Underachiever lebih senang melakukan kegiatan sendiri daripada berkelompok. Berkaitan dengan kegiatannya di sekolah, underachiever menunjukan sikap negatif terhadap kegiatan sekolah. Kurang konsentrasi ketika belajar, menghindari pekerjaan sekolah, disiplin rendah, dan kurang berminat dengan kegiatan yang diselenggarakan sekolah merupakan beberapa karakteristik underachiever jika dilihat dari sudut pandang sekolah.

D. PENYEBAB UNDERACHIEVER
Butler-Por (dalam oxfordbrooks.ac.uk, 2006) menyatakan bahwa underachievement bukan disebabkan karena ketidakmampuan untuk melakukan sesuatu dengan lebih baik, tetapi karena pilihan-pilihan yang dilakukan dengan sadar atau tidak sadar. Pernyataan ini dijelaskan oleh penelitian McClelland, Yewchuk dan Mulcahy (dalam oxfordbrooks.ac.uk, 2006) yang menyatakan bahwa ada dua set utama yang mempengaruhi performa underachiever, yaitu (a) faktor emosi dan motivasi, dan (b) faktor yang berhubungan dengan strategi belajar. McClelland dan rekannya percaya bahwa ketika faktor-faktor pada kedua set tersebut berkombinasi dan saling berinteraksi, bisa menjadi konsekuensi yang paling kuat untuk mencegah siswa menjadi underachiever (dalam oxfordbrooks.ac.uk, 2006).
a)      Faktor yang berkaitan dengan Strategi Belajar
Berikut merupakan faktor yang berhubungan dengan bagaimana indvidu belajar yang dikemukakan McClelland, Yewchuk dan Mulcahy (dalam oxfordbrooks.ac.uk, 2006)
1.      Tidak bisa menampilkan performa yang baik dalam situasi tes.
2.      Meraih prestasi dibawah harapan dalam salah satu pelajaran, sebagian atau keseluruhannya.
3.      Mengumpulkan tugas yang belum selesai atau yang dikerjakan secara asal-asalan.
4.      Menghindari untuk mencoba hal-hal baru.
5.      Mempunyai kecenderungan perfeksionis dan self-critism.
6.      Kesulitan untuk bekerja dalam kelompok.
7.      Membuat tujuan yang tidak realistis, terlau tinggi atau terlalu rendah.
8.      Tidak menyukai kegiatan yang membutuhkan latihan teratur, mengingat dan yang membutuhkan penguasaan keahlian tertentu.
9.      Sulit untuk memberikan atensi dan berkonsentrasi dalam tugas.
10.  Sulit menjalin dan mempertahankan hubungan persahabatan dengan teman-teman sebayanya.
Salah satu penyebab utama anak menjadi underachiever ialah cara kita membimbing anak kita baik di rumah maupun di sekolah. Kita menggunakan memakai metode one size fits all ( atau dalam ukuran baju disebut free size atau all size). Artinya anak dipaksakan mengikuti sistem yang ada. Misalnya, guru mengatakan bahwa kurikulum sudah demikian maka anak harus mengikutinya begitu.
Orang tua juga hanya menurut guru dan berkata pada anak,” Apa yang dikatakan guru sudah bagus. Kamu harus ikut sistem sekolah!” Prestasi anak menjadi rendah, namun tidak pernah terpikirkan bahwa mungkin caranya yang salah, bukan anaknya.
Lalu bagaimana solusinya? Anak-anak underachiever butuh curahan kasih sayang yang lebih. Orang tua dan para pendidik perlu menerima anak apa adanya. Untuk mengatasi metode one size fits all kita butuh program yang sangat spesifik untuk tiap-tiap anak. Penting sekali bagi kita untuk  mengenali keunikan anak sehingga kita bisa menciptakan lingkungan yang menjamin kesuksesan bagi tiap anak.
Munculnya underachiever tidak serta merta dengan sendirinya. Ada beberapa faktor yang berpotensi menjadi penyebab underachiever. Berdasarkan kajian teori yang peneliti lakukan, diasumsikan beberapa faktor penyebab underachiever, yaitu kondisi fisik, keadaan psikis, keluarga, sekolah, teman sebaya, dan masyarakat. Faktor-faktor tersebut nantinya menjadi fokus dalam penelitian ini.
b)     Kondisi Fisik
Seperti yang diungkapkan Semiawan (2004) (www.smp.alkausar.org) bahwa ”faktor-faktor penyebab underachieveryang berasal dari sisi fisik misalnya anak mengalami sakit, ada gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, atau ada cacat fisik”. Hal-hal tersebut sangat mungkin menganggu proses belajar anak sehingga prestasinya tidak bisa menggambarkan kemampuannya.

Meliala (2006) (www.ditplb.or.id) menambahkan bahwa “kondisi fisik yang bisa menyebabkan siswa underachiever misalnya anak mengalami sakit, ada gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, atau ada cacat fisik lainnya”. Hal-hal tersebut sangat mungkin menganggu proses belajar anak sehingga prestasinya yang diperoleh tidak sesuai dengan potensi yang sebenarnya.

c)      Kondisi Psikis
Selain kondisi fisik, kondisi psikis juga berpeluang menjadi faktor penyebab munculnya underachiever. Beberapa ahli mengungkapkan pendapat mengenai kondisi piskis yang rentan menjadi penyebab underachiever.

Menurut Munandar (2004: 241) ada beberapa kerentanan yang dapat menyebabkan seseorang menjadi underachiever, yaitu:
1.      Perfeksionisme, yaitu dorongan untuk mencapai kesempurnaan.
2.      Supersensitivity, yaitu kepekaan yang berlebih.
3.      Kurang keterampilan sosial.
Hawadi (2004: 73) menyebutkan faktor-faktor kepribadian yang bisa menyebabkan siswa underachiever seperti perfectionism, terlalu sensitif, tidak berdaya guna dalam keterampilan sosial, malu dan rendah diri karena berbeda dengan siswa lain, tidak percaya diri, dan terlalu banyak kegiatan.

Clark (1992: 472) juga menyebutkan kondisi pribadi anak yang berpotensi menyebabkan underachiever, yaitu sebagai berikut:
1.      Adanya tekanan dalam diri sendiri untuk mencapai kesempurnaan.
2.      Memiliki sensitivitas yang tinggi.
3.      Kurangnya kemampuan sosial.
4.      Merasa tertekan karena dianggap berbeda dengan anak lain, sehingga dikucilkan.
5.      Merasa tidak cocok dengan kurikulum sekolah.
6.      Kurang sesuai dengan cara mengajar guru.
7.      Kurang nyaman dengan lingkungan kelas.
8.      Terlalu banyak minat terhadap sesuatu, sehingga sulit fokus.
9.      Terlalu banyak kegiatan sehingga tidak bisa memanajemen kegiatannya sendiri.

a.       Faktor Emosi dan Motivasi
Yang termasuk dalam faktor ini adalah (dalam oxfordbrooks.ac.uk, 2006)
1.      Tidak menyadari potensinya, sehingga mereka kurang memahami dirinya dan orang lain (Buteler-Por, 1987)
2.      Mempunyai harapan/target yang terlalu rendah (Montgomery, 1996), sehingga membuat mereka tidak mempunyai tujuan dan nilai yang jelas (Butler-Por, 1987).
3.      Mempunyai self-esteem yang rendah, dan menjadi peka terhadap penilaian orang lain (Butler-Por, 1987).
4.      Pernah mengalami ‘high incident of emotional difficultiies’ (Pringle, 1970), dan membuat mereka depresi atau cemas (Butler-Por, 1987).
5.      Tidak termotivasi untuk berprestasi di sekolah (Montgomery, 1996).
6.      Takut mengalami kegagalan (Montgomery, 1996).
7.      Takut mengalami kesuksesan (Montgomery, 1996)
8.      Menyalahkan orang lain (Montgomery, 1996)
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada siswa yang mempunyai kecenderungan underachievement akan mengalami self-fullfilling yang makin memperkuat pola underachievement pada diri mereka. Individu yang tidak menyadari potensi dirinya akan menjadi lebih tertekan bila diberikan komentar seperti “kamu bisa melakukannya dengan lebih baik” akan membuat mereka melajutkan kecenderungan underachievement (oxfordbrooks.ac.uk, 2006).
d)     Sosial
a.       Keluarga
Berdasarkan beberapa literatur diketahui bahwa orang tua ternyata berpeluang menjadi faktor penyebab underachiever. Berikut ini pendapat para ahli yang menyatakan bahwa keluarga sebagai salah satu penyebab underachiever.

Hawadi (2004: 71) menyatakan bahwa ada beberapa faktor dari keluarga yang berpotensi menyebabkan siswa underachiever, yaitu:
1.      Belajar dan prestasi tidak mendapat penghargaan.
2.      Tidak ada sikap positif orang tua terhadap karier anak.
3.      Orang tua terlalu dominan dalam belajar anak.
4.      Prestasi anak menjadi ancaman kebutuhan superioritas orang tua.
5.      Adanya perebutan kekuasaan dalam keluarga.
6.      Status sosial ekonomi yang rendah.
7.      Keluarga mengalami disfungsi dengan berbagai alasan.

Munandar (2002: 343) menyebutkan bahwa ada beberapa kondisi keluarga yang dapat mengakibatkan anaknya menjadi underachiever diataranya “keluarga dengan moral rendah, keluarga terpecah (perceraian atau kematian), perlindungan berlebih dari orang tua, sikap otoriter, sikap membiarkan atau membolehkan secara berlebih, dan ketidakajegan sikap orang tua”.

Menurut Rimm dalam Sabili (1998 (www.gwocities.com) ada beberapa faktor penyebab underachiever yang berasal dari keluarga, yaitu:
1.      Perilaku orang tua yang perfectionist.
2.      Orang tua terlalu meremehkan kemampuan anak
3.      Orang tua kurang perhatian
4.      Orang tua bersikap terlalu permisif
5.      Konflik keluarga yang serius
6.      Orang tua sering mengkritik
7.      Orangtua terlalu melindungi (overprotective)

Berdasarkan penjelasan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor penyebab underachiever yang berasal dari keluarga terdiri dari keutuhan keluarga, sikap dan kebiasaan orang tua, dan kondisi sosial ekonomi keluarga.

b.      Sekolah
Selain faktor keluarga ternyata sekolah juga berpeluang menjadi salah satu faktor penyebab underachiever. Siswa menghabiskan sebagian waktunya untuk belajar di sekolah. Oleh sebab itu sekolah berperan dalam menciptakan siswa berprestasi. Akan tetapi pada kenyataannya sekolah juga berpotensi menyebabkan siswanya kurang mampu mengembangkan potensi yang dimiliki.

Seperti yang diungkapkan oleh Hawadi (2004: 70) bahwa terdapat beberapa faktor sekolah yang menjadi penyebab underachiever, yaitu sebagai berikut:
1.      Lingkungan sekolah tidak mendukung atau memberikan penghargaan terhadap keberhasilan akademik.
2.      Kurikulum tidak cocok dengan siswa.
3.      Lingkungan kelas yang kaku dan otoriter.
4.      Penghargaan tidak dibuat untuk perbedaan individual.
5.      Gaya belajar siswa yang tidak cocok dengan cara mengajar guru.

Selain itu Clark (1992: 475) juga menyebutkan beberapa kondisi lingkungan sekolah yang menjadi salah satu faktor penyebab munculnya underachiever, yaitu sebagai berikut:
1.      Tidak adanya pengelompokan khusus bagi anak biasa dan anak berbakat tetapi cenderung dicampur dalam satu kelas.
2.      Lingkungan sosial sekolah yang tidak mendukung terpenuhinya kebutuhan anak berbakat.
3.      Lingkungan kelas yang kaku.
4.      Prestasi akademik siswa kurang mendapat perhatian sekolah.
5.      Lingkungan kelas yang terlalu menunjukan kompetisi bagi siswanya dan terlalu kritis.

e)      Teman Sebaya
Teman sebaya siswa berbakat ternyata juga berpotensi menyebabkan underachiever. Menurut Runikasari (2008 (www.lptui.com) “salah pilih teman juga bisa menyebabkan seorang remaja menjadi underachiever”. Pada usia remaja, teman menjadi segalanya bagi mereka, sehingga sangat sulit menolak pengaruh dari teman. Ketika berteman dengan anak-anak yang kurang memperhatikan prestasi, maka akan membuat siswa juga malas belajar. Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya ketakutan ditinggalkan teman, sehingga mereka lebih baik mengalahkan prestasi belajar daripada pertemanannya.

Berdasarkan penjelasan para ahli dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab underachiever yang berasal teman sebaya terdiri dari:
1.      Keberadaan teman sebaya yang memiliki kesamaan minat dan bakat untuk mengembangkan kemampuan intelektualnya.
2.      Keterlibatan dalam kegiatan yang dilaksanakan bersama kelompok sebaya.


f)       Masyarakat
Menurut Hawadi (2004: 72) lingkungan sekitar tempat tinggal siswa berbakat juga berpotensi menjadi salah satu penyebab underachiever. Adanya harapan dari lingkungan sekitar yang menuntut anak berbakat harus memiliki prestasi yang baik dalam segala bidang, terkadang membuat anak justru merasa terbebani. Akibatnya anak berbakat yang seharusnya mampu menunjukan prestasi tinggi sesuai dengan tingkat kecerdasan, justru menunjukan hal yang sebaliknya. Prestasi belajar yang diperoleh bertolak belakang dengan tingkat kecerdasannya yang tinggi, dan hal ini dikenal dengan underachievement.

E. CARA MENANGANI UNDERACHIEVER
a)      Yang Dapat Dilakukan Orangtua
1.      Ciptakan gaya hidup sehat dengan membangun harmoni antara kondisi fisik, mental, dan emosional. Misalnya dengan memberi nutrisi yang baik, latihan atau olahraga, serta pengelolaan stres.
2.      Cari bantuan konseling untuk anak dan seluruh keluarga jika perlu. Jika seluruh keluarga ikut terlibat konseling, diharapkan perubahan dapat lebih cepat terjadi karena dukungan dari seluruh keluarga. Perubahan perilaku bukan hanya dari anak tetapi juga perubahan perlakuan anggota keluarga yang lain terhadap anak.
3.      Cari guru pembimbing untuk membantu anak mengatasi kelemahan dalam pelajaran-pelajaran tertentu.
4.      Komunikasikan harapan yang tinggi terhadap anak dengan rasa cinta, penuh pujian, kebanggaan dan respek.
5.      Adakan pertemuan keluarga untuk menetapkan target jangka pendek dan jangka panjang dan membuat aturan-aturannya, serta buatlah semacam “kontrak” (kesepakatan bersama).
6.      Jadikan keluarga sebagai sistem pendukung dan unit pemecahan masalah yang bermanfaat bagi anak, dipandu orangtua yang menjalankan peran pemimpin tapi berbasis cinta.
7.      Menekankan kerja keras sebagai kunci sukses, dengan usaha individual, motivasi dari dalam diri, komitmen dan kepercayaan diri sebagai resep keberhasilan.
8.      Rancang waktu-waktu beraktivitas di sekitar rumah selama 25 – 35 jam per minggu (misalnya membaca, melakukan hobi, olahraga, dan lain-lain) dan mengeksplorasi lingkungan bersama-sama sebagai sumber belajar.
9.      Cobalah untuk tertarik pada aktivitas anak di sekolah dan di rumah. Dorong anak untuk menceritakan aktivitas mereka.
10.  Jangan membandingkan antar saudara, pandang setiap anak sebagai individu yang memiliki keunikan kualitas dan kemampuan.
11.  Bantu anak mengelola waktu dan menetapkan prioritas.
12.  Dorong anak untuk memiliki minat di luar sekolah. Ketika hasil belajarnya buruk, jangan cepat-cepat menuding kegiatan luar sekolah sebagai sumber masalah dan menghukum anak untuk tidak boleh lagi berkegiatan.
13.  Bantu anak mendapatkan mentor/pembimbing yang dapat menjadi model menyangkut suatu karier atau kualitas personal yang diinginkan. Misalnya, bukakan jalinan interaksi dengan paman yang bisa menjadi model peran, atau Anda sendiri yang berusaha untuk dapat menjadi model bagi anak.
14.  Batasi waktu menonton TV dengan membuat kesepakatan-kesepakatan yang realistis.
15.  Konsisten dan tenang menghadapi naik turunnya prestasi anak, fokuskan pada masalah, jangan bertindak emosional.
b)     Yang Dapat Dilakukan Orangtua Bersama dengan Sekolah
Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orangtua untuk menjalin kerjasama dengan guru dalam mengatasi masalah anak underachiever:
1.      Berkonsultasi secara berkala dengan guru-guru untuk memonitor perkembangan prestasi anak.
2.      Terlibatlah dalam aktivitas sekolah, Anda akan bisa lebih mengerti apa yang diharapkan sekolah dari siswa-siswanya dan bagaimana mereka memperlakukan siswa.
3.      Pastikan bahwa guru anak Anda ikut menyadari adanya masalah underachievement ini dan akan melakukan usaha untuk mengarahkan anak Anda.
4.      Pastikan anak Anda bisa mengikuti kelas remedial atau konseling individual/kelompok jika diperlukan.
5.      Tanyakan pada pihak sekolah apakah ada cara belajar tertentu di sekolah yang mesti dikuasai anak ; dan jika ada, usaha apa yang dilakukan sekolah untuk mengajarkannya, dan apa dukungan yang bisa diberikan orangtua di rumah.
6.      Tanyakan pada pihak sekolah apa saja yang mereka lakukan agar kurikulumnya menantang, bermakna secara personal, dan rewarding untuk anak.
Kembangkan terus kerjasama dengan pihak sekolah yang disesuaikan dengan permasalahan spesifik anak. Kerjasama dengan sekolah merupakan suatu hal yang patut dan berharga untuk dibangun oleh orangtua dalam mengoptimalkan prestasi anak, baik secara akademik maupun non akademik sesuai dengan bakat dan minat anak.
Sementara itu jangan lupa untuk terus melakukan perbaikan internal di dalam rumah yang dapat lebih mendorong anak untuk mau berprestasi. Sesuaikan dengan kondisi perkembangan psikologis anak terutama remaja yang sedang berada dalam masa perubahan dari anak-anak menjadi dewasa. Komunikasikan usaha-usaha yang dilakukan orangtua dengan sekolah sehingga tidak ada salah satu pihak yang merasa disalahkan sebagai penyebab anak menjadi underachiever. Bagi para orangtua, kenali secara dini gejala underachiever ini. Cari informasi tentang minat dan bakat anak yang sesungguhnya untuk bisa mengetahui apakah prestasi sekolahnya sudah optimal.
F. CARA ANAK MENUNJUKKAN DIRINYA
Berikut ini merupakan berbagai macam cara anak menunjukkan diri mereka kepada dunia:
a.      Performer
Anak performer senang jadi pusat perhatian dan spontan, misalnya sering jadi ‘badut’ kelas. Mereka juga aktif, kompetitif, suka tantangan dan suka adu argument dengan orang tua. Selain itu anak performer suka pelajaran yang fun, yang menyenangkan, dan relevan dengan kehidupannya sehari-hari. Untuk mengajar mereka, pelajaran harus bervariasi dan sebisa mungkin libatkan mereka untuk terjun langsung dalam belajar (hands on).
Anak-anak demikianlah yang sering disebut anak-anak sulit atau bandel di sekolah. Karena sering membuat keonaran, hal-hal yang lucu, memberi komentar-komentar yang tidak pada tempatnya, merekalah yang paling sering menyulitkan guru dan orang tua. Mereka suka materi yang singkat dan to the point. Juga responsif jika belajar dengan game ; Mereka butuh waktu yang bebas. Anak seperti ini tidak bisa diberlakukan jadwal yang begitu padat.
b.      Produser
Mereka adalah anak efisien yang paling disayang oleh guru dan orang tua. Kalau Anda memiliki anak seperti ini rasanya tenang sekali. Ia tertib, suka membuat rencana dan aturan atau hal-hal terstruktur. Anak-anak ini sangat produktif. Nilai-nilai ulangan anak produser juga biasanya bagus. Dengan sifat-sifat rajin, fokus, rapi, tertib, maka tidak heran bila mereka disayang orang tua.
c.       Penemu
Anak dengan disposisi ini merupakan anak yang cerdas. Banyak bertanya dan tangannya terampil, suka otak-atik. Ia suka menyendiri, suka berpikir secara konkrit. Dalam memecahkan masalah sehari-hari (riil) mereka bagus sekali.
Mereka butuh stimulus intelektual. Artinya mereka perlu diajak bicara cukup ‘tinggi’ pada level pengetahuannya. Orang tua perlu memberi kesempatan agar mereka bisa menyumbangkan kemampuan mereka.
d.      Pencipta dan Pemikir.
Anak-anak ini memiliki imajinasi yang tinggi, sering melamun. Bedanya dengan anak penemu tadi ialah, anak pencipta suka berpikir abstrak. Anak tipe ini bisa mengaitkan konsep abstrak, bahwa anak yang mendapat kasih sayang dari ke dua orang tua lebih beruntung dari binatang-binatang yang punya satu orang tua atau tidak punya orang tua.
Anak pencipta dan pemikir juga senang bertanya dan terbuka dengan ide yang baru. Berorientasi pada ide, mereka senang menyendiri untuk berpikir. Anak ini perlu penyaluran ide-ide baru yang diciptakannya. Di rumah, dia butuh waktu untuk menyendiri. Jangan beri jadwal yang padat.
e.       Sosial dan Inspirator
Ibu Theresia dan Marthin Luther King ialah contoh orang dengan disposisi ini. Individu yang bersifat sosial dan yang memberi inspirasi bagi lingkungannya. Anak sosial paham dan peduli dengan perasaan orang lain. Mereka sangat efektif bekerja dalam kelompok karena tidak egois. Anak ini menciptakan kerjasama dalam kelompok dan biasanya menjadi leader.
Sifat lain adalah adil, penolong dan rela berkorban. Dalam hal rela berkorban ini, sebagai orang tua, kita perlu membantu anak untuk mengatakan ‘tidak’ kepada teman-temannya. Ia biasanya ‘diperbudak’ oleh teman-temannya karena terlalu baik hati.
Anak ini sangat people-oriented, cinta harmoni - dalam arti tidak suka menentang orang lain. Suka ngobrol. Hal-hal yang perlu kita lakukan ialah memberi kesempatan dia menolong orang lain, namun ajari dia untuk tidak terlalu larut dalam menolong orang itu.

3 komentar:

Mengenai Saya

Foto saya
Teman-teman kami bilang kami ini kembar, padahal kenyataannya jauh berbeda. Kesamaan kami hanyalah kami sama-sama wanita, kami berasal dari daerah yang sama, kami dalam kelas yang sama, dan huruf awal nama kami sama-sama 'A".