Sabtu, 31 Maret 2012

BAGAIMANAKAH KONSELING KELUARGA ITU?????


REVIEW BUKU
KONSELING KELUARGA
KARYA Prof. Dr. H. Sofyan S. Willis
Sebagai Tugas Akhir Mata Kuliah Teori-Teori Konseling
logo baru.jpg
Oleh    :
Anjar Raharyanti                  (101014056)
BK-B 2010
Dosen Pembimbing   :
Dr. Eko Darminto, M. Si
Denok Setiawati. S. Psi, M. Pd

PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING
JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2011
REVIEW BUKU KONSELING KELUARGA
Dalam buku yang berjudul “Konseling Keluarga” ini menyajikan tentang dasar-dasar pengenalan konseling keluarga dan berbagai pendekatan psikologi dalam teknik konseling keluarga. Disertai juga konseling keluarga, pendidikan anti narkoba dan pendidikan keluarga sakinah. Buku ini dibagi menjadi sebelas bagian. Yang pertama yaitu latar belakang kehidupan keluarga, yang kedua yaitu tentang sejarah konseling keluarga, yang ketiga yaitu tentang konseling keluarga dalam pendekatan sistem, yang keempat yaitu tentang memahami konseling keluarga, yang kelima teori-teori konseling, yang keenam yaitu aplikasi teori-teori konseling, yang ketujuh proses dan tahapan konseling keluarga, yang kedelapan yaitu teknik-teknik konseling keluarga, yang kessembilan yaitu ketahanan keluarga, yang kesepuluh tentang dialog konseling kasus mahasiswa DO dan yang ke duabelas yaitu tentang dialog konseling keluarga.
1.      Latar Belakang Kehidupan Keluarga
Kehidupan keluarga tidak terlepas dari sistem nilai yang ada dalam masyarakat yaitu agama, adat istiadat, nilai-nilai sosial, dan nilai-nilai kesakralan keluarga. Dimana sistem nilai tersebut sering mengalami degradasi, misalnya degradasi agama yaitu pada saat ini banyak umat yang kurang taat beribadah sebagaimana diperintahkan oleh agamanya. Untuk kondisi keluarga modern sendiri mempunyai ciri utama kemajuan dan perkembangan di bidang pendidikan, ekonomi, dan pergaulan. Dalam keluarga ada kalanya mengalami krisis maksudnya kehidupan keluarga dalam keadaan kacau, tak teratur dan terarah, orang tua kehilangan kewibawaan untuk mengendalikan anak-anaknya. Faktor-faktor penyebab terjadinya krisis keluarga yaitu kurang atau putus komunikasi diantara anggota keluarga terutama ayah dan ibu, sikap egosentrisme, masalah ekonomi, masalah kesibukan,pendidikan,perselingkuhan,jauh dari agama. Cara pemecahan krisis keluarga ini ada dengan dua cara yaitu cara tradisional seperti diperlukannya kearifan kedua orang tua dalam menyelesaikan masalah dan perlunya bantuan orang bijak seperti ulama atau ustadz, cara yang kedua yaitu cara modern (ilmiah) seperti melakukan konseling keluarga.
2.      Sejarah Konseling Keluarga
Sejarah perkembangan konseling keluarga di dunia berasal dari daratan Eropa dan Amerika Serikat. Awal permulaan abad ke-20 berasal dari Eropa, namun perkembangannya yang lebih semarak adalah pada tahun 60-an dan seterusnya di Amerika Serikat. Perbedaan yang mencolok ialah bahwa aliran Amerika Serikat telah berorientasi teoris(academic setting) misalnya dengan menganut aliran-aliran psikologi terkenal, sedangkan Eropa hanya berawal dari praktisi (para dokter kandungan) tanpa memikirkan aspek teorisnya. Sejarah konseling keluarga di Indonesia dikarenakan guru-guru pembimbing sekolah menemukan masalah-masalah kesulitan belajar dan masalah lainnya seperti sosial pribadi berkaitan dengan keadaan sosial-psikologis keluarga. Beberapa tokoh konseling keluarga yaitui Virginia Satir, Jay Haley dan Salvadore Minuchin.
3.      Konseling Keluarga dalam Pendekatan Sistem
Konseling keluarga dalam pendekatan sistem maksudnya jika anggota keluarga berubah atau terganggu maka keseluruhan anggota keluarga akan berubah atau terganggu pula. Perilaku anggota yang terganggu menyebabkan anggota lainnya terganggu pula. Sebaliknya jika sistem keluarga terganggu maka kemungkinan besar ada anggota keluarga lainnya terganggu pula.
4.      Memahami Konseling Keluarga
Konseling keluarga adalah upaya bantuan yang diberikan kepada individu anggota keluarga melalui sistem anggota keluarga (pembenahan komunikasi anggota keluarga) agar potensi nya berkembang seoptimal mungkin dan masalahnya dapat diatasi atas dasar kemauan membantu dari semua anggota keluarga berdasarkan kerelaan dan kecintaan terhadap keluarga. Penanganan terhadap keluarga sebagai sistem bertujuan untuk membantu anggota keluarga yang mengalami gangguan emosi melalui sistem keluarga. Yaitu setiap anggota memberikan konstribusi positif dan pemahaman yang mendalam akan hakekat gangguan tersebut. Dengan kata lain keluarga yang berjasa untuk membantu perkembangan anggotanya dan menyembuhkan anggota yang terganggu.
5.      Teori-teori Konseling
Pendekatan konseling merupakan teori yang mendasari sesuatu kegiatan dan praktik konseling. Dalam melaksanakan konseling keluarga biasanya bukan menggunakan pendekatan tunggal teori, tetapi menggunakan pendekatan yang relevan dengan kasus tertentu kemudia secara sintesis-analitik teori tersebut diterapkan. Pendekatan itu disebut pendekatan creative-synthesis-analytic. Namun di sini juga akan dijelaskan beberapa teori konseling yang terkenal di dunia :
a.       Pendekatan Psikoanalisis
Aliran psikoanalisis dipelopori oleh Sigmund Freud. Pengertian psikoanalisis memcakup tiga aspek yaitu sebagai metode penelitian proses-proses psikis, teknik untuk membantu gangguan psikis, sebagai teori kepribadian. Psikoanalis mempunyai beberapa prinsip yaitu prinsip konstansi artinya kehidupan psikis cenderung untuk mempertahankan kualitas ketegangan psikis pada taraf yang serendah munkin, prinsip kesenangan artinya kehidupan psikis cenderung untuk menghindari ketidaksenangan dan sebanyak mungkin memperoleh kesenangan, prinsip realitas yaitu prinsip kesengan yang disesuaikan dengan keadaan nyata. Struktur kepribadian menurut Freud terdiri dari id, ego dan super ego. Id merupakan aspek biologis yang mempunyai energi yang dapat mengaktifkan ego dan super ego. Dorongan-dorongan untuk memuaskan hawa nafsu manusia bersumber dari id. Sedangkan super ego berperan untuk mengatur agar ego bertindak sesuai moral masyarakat. Proses konseling yang dikemukakan dalam urutan fase-fase konseling dapat diikuti berikut ini :
Ø  Membina hubungan konseling yang terjadi pada tahap awal konseling.
Ø  Tahap krisis pada klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan dan melakukan transferensi.
Ø  Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya.
Ø  Pengembangan resistensi untuk pemahaman diri.
Ø  Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor.
Ø  Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi.
Ø  Menutup wawancara konseling.
Teknik konseling psikoanalisis yaitu :
Ø  Asosiasi bebas yaitu klien diupayakan untuk menjernihkan alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari-hari sekarang ini, sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya.
Ø  Interpretasi adalah teknik yang digunakan oleh konselor untuk menganalisis asosiasi bebas, mimpi, resistensi, dan transferensi klien.
Ø  Analisis mimpi yaitu suatu teknik untuk membuka hal-hal yang tak disadari dan memberi kesempatan klien untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan. Proses terjadinya mimpi karena di waktu tidur pertahanan ego menjadi kompleks dan lemah sehingga yang terdesakun muncul ke permukaan.
Ø  Analisis resistensi yaitu konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi.
Ø  Analisis trasferensi yaitu konselor mengusahakan agar klien mengembangkan transferensinya agar terungkap neurosisnya terutama pada usia selama lima tahun pertama dalam hidupnya.
b.      Terapi Terpusat Pada Klien (Client-Centered Therapy)
Cliend- Centered Therapy (psikoterapi non-directive) yang dikembangkan oleh Ransom Rogers adalah suatu metode perawatan psikis yang dilakukan dengan cara berdialog antara konselor dengan klien agar tercipta gambaran yang serasi dengan kenyataan klien yang sebenarnya. Ciri-ciri terapi ini adalah :
Ø  Ditujukan kepada klien yang sanggup memecahkan masalahnya.
Ø  Sasaran konseling adalah aspek emosi dan perasaan.
Ø  Titik tolak konseling adalah keadaan individu termasuk kondisi sosial-psikologis.
Ø  Proses konseling bertujuan untuk menyesuaikan antara ideal-self dengan actual-self.
Ø  Peranan yang aktif adalah klien.
Proses konseling terapi berpusat pada klien yaitu :
Ø  Klien datang kepada konselor atas kemauannya sendiri.
Ø  Situasi konseling sejak awal harus menjadi tnggung jawab klien.
Ø  Konselor memberanikan klien agar ia mampu mengemukakan perasaannya.
Ø  Konselor menerima perasaan klien serta memahaminya.
Ø  Konselor  berusaha agar klien dapat memahami dan menerima keadaan dirinya.
Ø  Klien menemukan pilihan sikap dan tindakan yang akan diambil.
Ø  Klien merealisasikan pilihan itu.
Teknik konseling pada Rogers berkisar antara lain pada cara-cara penerimaan pernyataan dan komunikasi, menghargai orang lain dan memahami klien.
c.       Terapi Gestalt
Teori ini dikembangkan oleh Frederick S. Pearl, menurutnya individu itu selalu aktif sebagai keseluruhan dan individu yang sehat adalah yang seimbang antara ikatan organisme dengan lingkungan karena itu pertentangan antara keberadaan sosial dengan biologis merupakan konsep dasar terapi Gestalt.
Landasan bagi proses konseling mengikuti lima hal yang penting sebagai berikut :
Ø  Pemolaan (patterning) yaitu situasi yang tercipta setelah konselor memperoleh fakta atau penjelasan mengenai sesuatu gejala dan konselor segera memberikan jawaban.
Ø  Pengawasan (control) merupakan kemampuan konselor untuk meyakinkan klien untuk mengikuti prosedur konseling.
Ø  Potensi yaitu usaha konselor untuk mempercepat terjadinya perubahan perilaku dan sikap serta kepribadian.
Ø  Kemanusiaan meliputi kemampuan konselor dalam mengenalkan, mendampingi, memikirkan klien untuk perubahan perilakunya.
Ø  Kepercayaan yaitu kepercayaan diri konselor menangani klien secara individual.
Proses dan fase konseling gestalt yaitu :
Ø  Fase I, membentuk pola pertemuan terapeutik.
Ø  Fase II, pengawasan yaitu meyakinkan klien mengikuti prosedur konseling.
Ø  Fase III, yaitu mendorong klien untuk mengungkapakan perasaan.
Ø  Fase IV (terakhir), yaitu klien memiliki kepribadian yang integral sebagai individu yang unik.
d.      Terapi Behavioral
Terapi Behavioral berasal dari dua arah konsep yaitu Pavlovian dan Skinnerian. Menurut teori ini perilaku yang menyimpang bersumber dari belajar atau hasil belajar tertentu. Perilaku dipandang sebagai respont terhadap stimulasikarena itulah tujuan terapi ini untuk memodifikasi koneksi dan metode S-R. Dan juga untuk memperoleh perilaku baru, mengeliminasi perilaku yang maladaptif dan memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan.
Berikut ini dikemukakan beberapa teknik konseling behavioral :
Ø  Desentilisasi sistematik bermaksud mengajarkan klien untuk memberikan respon yang tidak konsisten dengan kecemasan yang dialami klien. Teknik ini tak dapat berjalan tanpa teknik relaksasi. Di dalam konseling itu klien diajar untuk santai dan menghubungkan keadaan santai itu dengan membayangkan pengalaman yang mencemaskan.
Ø  Assertive training yaitu konselor berusaha memberikan keberanian kepada klien dengan mengatasi kesulitan terhadap orang lain. Pelaksaan teknik ini yaitu dengan bermain peran (role playing). Misalnya klien berperan menjadi tokoh yang berkebalikan dengan karakternya sehari-hari.
Ø  Aversion therapy teknik ini bertujuan untuk menghukum perilaku yang negatif dan memperkuat perilaku positif. Hukuman bisa brupa kejutan listrik atau memberi ramuan yang membuat orang muntah.
Ø  Home-work yaitu latihan rumah bagi klien yang kurang mampu menyesuaikan diri terhadap situasi tertentu. Caranya yaitu dengan memberikan tugas rumah selama satu minggu.
e.       Logotherapy Frankl
Logo terapi dikembangkan oleh Frank ini bertujuan agar dalam masalah yang dihadapi klien dia bisa menemukan makan dari penderitaan dan kehidupan serta cinta. Teknik konseling logo terapi ini menggunakan semua teknik yang kiranya sesuai dengan kasus yang dihadapi. Tampaknya kemampuan menggali hal-hal yang brmakna dari klien amat penting.
f.       Rational Emotive Therapy (RET)
RET dikembangkan oleh seorang eksistensialis Albert Ellis, menurutnya bukanlah pengalaman atau peristiwa eksternal yang menimbulakan emosional akan tetapi tergantung pada pengertian yang diberikan terhadap peristiwa atau pengalaman itu. gangguan emosi terjadi disebabkan pikiran-pikiran seorang yang bersifat irrasional terhadap peristiwa dan pengalaman yang dilaluinya.
Proses konseling RET yaitu :
Ø  Konselor berusaha menunjukkan kepada klien bahwa kesulitannya berhubungan dengan keyakinan irrasionalnya.
Ø  Konselor menunjukkan pemikiran irrasional klien dan berusaha mengubah kepada keyakinana rasional.
Ø  Konselor berusaha agar klien menghindari diri dari ide-ide irrasional.
Ø  Konselor menantang klien untuk mengembangkan filosofis kehodupan yang rasional.
Teknik konseling RET yang berusaha menghilangkan gangguan emosional yang merusak diri yaitu :
Ø  Assertive training yaitu melatih dan membiasakan klien terus-menerus dengan perilaku tertentu yang diinginkan.
Ø  Sosiodrama yaitu semacam sandiwara pendek tentang masalah kehidupan sosial.
Ø  Self modeling yaitu teknik yang bertujuan menghilangkan perilaku tertentu dimana konselor menjadi model dan klien berjanji akan mengikutinya.
Ø  Tknik reinforcement yaitu memberikan reward terhadap perilaku rasional atau memperkuatnya (reinforce)
Ø  Social modeling yaitu membentuk perilaku baru melalui model sosial denagn cara imitasi, observasi.
Ø  Desentilisasi sistimatik.
Ø  Relaxatation.
Ø  Self control yaitu dengan cara mengontrol diri.
Ø  Diskusi.
Ø  Simulasi.
Ø  Homework assignment.
Ø  Bibliografi, memberi bahan bacaan.

6.      Aplikasi teori-teori konseling
Berikut adalah aplikasi teori-teori konseling pada praktek konseling keluarga :
a.       Pendekatan Terpusat pada Klien
Rogers menulis tentang implikasi konseling terpusat pada klien terhadap keluarga menekankan pada hubungan atas dasar kejujuran, keaslian, menjaga, menerima, menghargai secara positif dan belajar aktif. Anggota keluarga sering berjuang untuk mempertanyakan kepercayaan anggota lain yang berdasarkan pada rasa kejujuran, keterbukaan berespon dan kewajaran. Sebagian anggota keluarga yang datang untuk konseling pada mulanya bersikap defensif karena itu konseling keluarga harus dengan iklim terbuka, bebas dan jujur.
b.      Pendekatan Eksistensial dalam Konseling Keluarga
Di dalam konsep eksistensial aspek seperti membuat pilihan-pilihan, menerima tanggung jawab yang bebas, penggunaan kreatif terhadap kecemasan dan penelitian tentang makna dan nilai merupakan hal yang mendasar dalam situasi terapeutik dalam konseling keluarga. Asumsi dasar dari keluarga bahwa anggota keluarga membentuk nasibnya melalui pilhan-pilihan yang dibuatnya sendiri sehingga diharapkan anggota keluarga juga harus dapat mengubah struktur kehidupan mereka.
c.       Konseling Keluarga Pendekatan Gestalt
Pendekatan gestalt sebagai suatu model dfokuskan pada saat sekarang ini dan pada pengalaman keluarga yang dilakukannya di dalam sesi-sesi konseling. Teori gestalt memberikan perhatian kepada apa yang dilakukan anggota keluarga, bagaimana mereka mengatakan, apa yang kejadian ketika mereka berkata itu bagaimana ucapan-ucapannya jika dihubungkan dengan perbuatannya dan apakah mereka berusaha untuk menyelesaikan perbuatannya.
d.      Pendekatan Konseling Keluarga Menurut Aliran Adler
Tujuan dasar pendekatan ini adalah untuk mempermudah perbaikan hubungan anak-anak dan meningkatkan hubungan di dalam keluarga dan mengajarkan hidup bersama dalam keluarga sosial yang sederajad (sesama manusia). Selain itu diperlukannya tanggung jawab keluarga khususnya orang tua diharapkan ikut dalam studi kelompok dimana hasilnya bisa dimanfaatkan bagi penyelesaian masalah keluarga.
e.       Pendekatan Transactional Analysis (TA) dalam Konseling Keluarga
Tujuan dasar dari konseling keluarga TA ialah bekerja dengan struktur kontrak yang dilakukan oleh setiap anggota keluarga terhadap konselor. di dalam sesi-sesi konseling TA anggota keluarga diusahakan untuk merespon satu sama lain secara langsung untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan secara terbuka dan mendapatkan umpan balik dari anggota yang lain.
f.       Aplikasi Konsep-konsep Psikoanalitik
Konsep psikoanalitik mengajarkan konselor untuk memahami tentang ketidakfungsian pola-pola keluarga yang telah menyebabkan isu-isu pribadi yang tak terpecahkan diantara ayah, ibu dan anak. Di dalam konseling keluarga situasi yang tak menentu itu merupakan pola masa lalu yang terungkat di masa sekarang di dalam keluarga. Tantangan terbesar konselor adalah membantu anggota keluarga agar menyadari keadaannya dan mengambil tanggung jawab dalam menanggulangi proyeksi dan transferensinya dan masalah itu akan tetap berlarut-larut jika mereka tetap berorientasi pada kehidupan masa lalu.
g.      Konseling Keluarga Rational-Emotive
Anggota keluarga dibantu untuk melihat bahwa mereka bertanggung jawab dalam membuat gangguan bagi diri mereka sendiri melalui perilaku orang lain secara serius. Mereka didorong untuk mempertimbangkan bagaimana akibat perilakunya, pikirannya, emosinya telah membuat orang lain dalam keluarga menirunya.
h.      Aplikasi Teori Behavioral dalam Konseling Keluarga
Pada ahli klinis yang berorientasi kepada belajar melihat suatu kesempatan untuk terjadinya perubaha-perubahan perilaku yang berarti pada anggota keluarga dengan cara menata kembali lingkungan interpersonalnya. Anggota keluarga belajar bagaimana memberikan kepada anggota lain pengenalan dan persetujuan perilaku-perilaku yang diinginkan dan bukan perilaku yang menyimpang.


i.        Konsep-konsep Logotherapy dalam Konseling Keluarga
Logotherapy bertujuan agar klien yang menghadapi masalah dapat menemukan makna dari penderitaannya dan juga makna mengenai kehidupan dan cinta. Kehidupan keluarga menentukan titik tolak perkembangan anak. Jika kehidupan keluarga berantakan sering menimbulkan frustasi pada anak. Di dalam konseling keluarga konselor sebaiknya mengusahakan agar anggota keluarga menemukan makna yang baik baginya dalam hubungan interpersonal.
7.      Proses dan Tahapan Konseling Keluarga
Secara umum proses konseling keluarga berjalan menurut tahapan berikut :
Ø  Pengembangan raport merupakan suasana hubungan konseling yang akrab, jujur, saling percaya sehingga menimbulkan keterbukaan diri klien.
Ø  Pengembangan apresiasi emosional artinya dengan adanya komunikasi yang baik maka antara anggota keluarga dapat menghargai perasaan masing-masing dan dengan keinginan agar masalah yang dihadapi dapat mereka selesaikan.
Ø  Pengembangan alternatif modus perilaku artinya konselor memberikan aplikasi perilaku yang harus dilakukan oleh seluruh anggota keluarga.
Ø  Fase pembinaan hubungan
Ø  Memperlancar tindakan positif
8.      Teknik-teknik Konseling Keluarga
Teknik-teknik konseling keluarga di sini meliputi teknik konseling keluarga dalam pendekatan sistem meliputi teknik sculping (mematung), bermain peran, silence (diam), konfrontasi, teaching via questioning, mendengarkan, mengikhtisarkan, menyimpulkan, menjernihkan dan refleksi.
9.      Ketahanan Keluarga
Setiap orang menginginkan keluarga bahagia, orang tua sebagai pembimbing anak-anak seharusnya lebih bijak di dalam menciptakan keluarga yang bahagia tersebut. Berikut adalah beberapa syarat untuk menjadi orang tua yang bijak :
Ø  Komunikasi yang empati yaitu dialog dua arah antara orang tua dengan anak dimana orang tua berusaha memahami apa yang dirasakan, dialami, dan dipikirkan oleh anak.
Ø  Menghargai anak adalah vitamin bagi perkembangannya. Sebaliknya sifat-sifat meremehkan, melecehkan, dan menekan merupakan racun bagi anak.
Ø  Mendorong anak adalah upaya orang tua agar anak-anak maju sesuai dengan bakat, kemampuan dan kepribadiaannya.
10.  Untuk bab sepuluh dan sebelas berisi tentang dialog konseling kasus mahasiswa DO dan dialog konseling keluarga. Di situ terdapat cerita dimana seoranga anak mengalami masalah karena orang tuanya terlalu sibuk dengan pekerjaanya, sehingga dia tidak mendapatkan perhatiaan dan kasih sayang dari keluarganya sehingga kebutuhan psikologisnya tak terpenuhinya akibatnya dia melakukan foya-foya dan mengabaikan belajarnya sehingga dia di DO dari sekolah. Dari kasus tersebud konselor dapat mengatasinya dengan konseling keluarga dengan teknik dan pendekatan yang sesuai dengan kasus tersebut.



Sumber : S. Willis, Sofyan, 2009, Konseling Keluarga (Family Counseling), Alfabeta: Bandung.

0 komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto Saya
Teman-teman kami bilang kami ini kembar, padahal kenyataannya jauh berbeda. Kesamaan kami hanyalah kami sama-sama wanita, kami berasal dari daerah yang sama, kami dalam kelas yang sama, dan huruf awal nama kami sama-sama 'A".